monolog 3 perempuan menuntut malam. pemain : maryam supraba, ninik l. karim, rieke diah pitaloka. sutradara : marzuki a.k.a. kill the dj videografi : chandra hutagaol musik : balance perdana putra soundscape : gendel tata cahaya : azies dyink
klasik, menarik, klise, membosankan. berbeda dengan versi yang dipertunjukan di jakarta karena ria irawan berhalangan, pertunjukan dibagi 3 bagian. bagian pertama diperankan maryam supraba yang untuk perannya yang bercerita tentang hidupnya sebagai istri simpanan. cukup kalo buat gue, jelek banget ngga', bagus banget ngga', ketangkep maksudnya apa, tapi juga ngga' menonjol. cara berceritanya teatrikal, tentang penderitaan sulitnya jadi istri simpanan yang harus berjuang sendiri membesarkan anaknya dan persoalan anak di indonesia yang kalo emang ngga' ada bapaknya atau tidak diakui bapaknya jadi anak yang tidak diakui negara. yang mencuri perhatian justru visual gambar bunga dan riuh rendah jalanan juga suara-suara ilustrasi pengiringnya. bagian kedua, ibu-ibu ngomel sambil masak nasi goreng [dan gue duduk didepan dan bisa mencium wangi bawang goreng dan nasi goreng dari panggung], diperankan ninik l. karim, itu bagus. visualnya juga bagus. dan buat gue entah kenapa rasanya cerita itu jadinya paling nyata, rasanya seperti ngedengerin seseorang yang kita kenal curhat tentang hidup perkawinannya yang tadinya tampak baik-baik saja meski kebebasan dia sebagai perempuan banyak terkekang karena suaminya tidak memperbolehkan dia bergaul dengan bebas dan menentukan sendiri apa yang dia mau tapi romantis jadi dianggap sebagai bentuk rasa sayang, perlahan-lahan mulai berantakan karena dikhianati suami dan suami mulai main pukul. ada adegan dimana dia bercerita di satu malam dia harus membawa 2 anaknya kabur karena anak lelaki bungsunya dipukul juga oleh suaminya, itu bikin sedih. peristiwa yang sama kemudian terjadi pada anak perempuannya, jadi dia juga membujuk anaknya untuk bercerai dari suaminya karena biasanya, sekali suami main pukul pasti akan berulang dan berulang lagi. ending ceritanya juga asyik karena kemudian dia ngga' jadi tokoh yang sok kuat dan gagah karena di ending juga ada cerita dia menelepon "akang" sang pengganti suami untuk menikmati nasi goreng bersama anak dan cucunya yang memutuskan untuk pulang saja ke rumah sang ibu. bagian ketiga awalnya menarik, dibeberapa tempat, rieke dyah pitaloka sebagai politisi perempuan yang up to date terhadap gosip dan situasi politik, sindiran-sindiran terhadap kelompok berbaju pangeran dipenogoro, sindiran terhadap pemerintah bandung yang mempertanyakan ijin keramaian, sindiran tentang poligami, dibeberapa tempat asyik, tapi ditengah-tengah ketika kemudian yang diulang-ulang adalah berita-berita komoditas politik dan infotainment [yang lucunya disinggung di babak kedua oleh tokoh ibu, yang sempet ngomel soal isi tivi yang isinya berita tak penting, infotainment dan kekerasan], jadi mulai garing. kritik tivinya soalnya jadi ga jadi di babak ketiga. dan perlahan-lahan mulai berubah ke menjadi klasik dan klise. apalagi ketika tiba-tiba ada gedoran di pintu dan ceritanya si politisi diculik. ketika ada pertanyaan dari si tokoh tentang siapa kalian yang menculik dan kenapa memperlakukan saya seperti ini visual yang muncul adalah gambar tentara dan tkw. aduh, aduh, aduh. jadilah gue sama si mas pulang dengan perasaan yang tidak enak. padahal di babak kedua udah oke banget, kenapa endingnya jadi begini. makanya kemudian jadinya bintang tiga. satu bintang untuk rieke dan maryam, satu bintang penuh untuk ninik l. karim, dan satu bintang lagi untuk tim kreatif termasuk bapak sutradara didalamnya. karena seharusnya entah kenapa, sutradaranya biasanya mampu ngakalin, tapi mungkin karena kelelahan, kecapean dan marah-marah melulu atau dia sendiri tidak menyangka endingnya bakal kayak gitu. tapi ini dari gue sendiri dan hasil diskusi dengan si mas. entah penonton yang lain dan entah dihari pertama. karena tampaknya para penonton yang lain sangat hobi bertepuk tangan sepanjang pertunjukan. . satu lagi sih, kenapa ya, yang diangkat selalu penderitaan dan bukan kebahagiaan ? gue yakin memang sangat banyak perempuan yang hidupnya menderita dan bukan pilihan dia untuk menderita meski ada juga yang memang memilih untuk menderita. tapi gue selalu berharap, perempuan akan kemudian didenger karena dia mampu melakukan sesuatu bukan karena dikasihani atau minta jatah karena dia perempuan.
-- sorry ga ada foto karena memang tidak mengambil gambar --  | hehe... mestinya yang paling belakang itu ditaro depan ya Bo? *halah belepotan |
 | aku juga menyayangkan rieke yang terjerumus pada "khotbah". Padahal di awal2 dia sudah bagus, tp kok tergoda utk "nyinyir" hehehe |
| |